Isna nuril anwar
Sekolah adalah lingkungan kedua bagi anak. Anak
menghabiskan waktu yang cukup banyak di sekolah. Karena waktu yang banyak
itulah banyak hal-hal terjadi di sekolah. Bisa hal yang lucu, menyenangkan,
menyebalkan dan lain sebagainya. Makanya jangan heran kalau sekolah sering
dijadikan setting tempat yang bagus untuk dijadikan sebuah cerita pendek.
Tema
yang diangkat pun bisa bermacam-macam. Anak yang iseng di kelas sehingga
kena batunya. Anak yang malas dan ketika mencontek ketahuan gurunya, kehilangan
uang di kelas, murid yang tingkahnya selalu lucu dan banyak lagi yang lainnya.
Memang,
sekolah merupakan sumber ide yang tak ada habisnya. Dan anak-anak pun senang
dengan kisah-kisah yang terjadi di sekolah. Bagi mereka sekolah adalah tempat
yang menyenangkan dan berkesan. Sehingga ketika mereka lulus sekolah semua
kejadian di sekolah akan tetap terkenang.
Cerpen
anak sekolah biasanya tokohnya adalah anak sekolah. Cerita pun berlokasi di
sekolah. Seringnya dibumbui dengan kisah persahabatan dengan gambaran suasana
sekolah. Ada juga yang memolesnya dengan bumbu misteri. Contohnya menemukan
murid si pencuri uang.
Tema
tentang situasi di sekolah kalau mengemasnya baik bisa menjadi cerita yang amat
menarik. Teristimewa lagi, anak-anak pun sangat menyukainya. Tetapi sedikit
sekali yang mengangkat tentang suasana sekolah di desa. Jadi saya coba suguhkan
cerita anak sekolah yang berlokasi di desa. Semoga bisa menginspirasi.
INDAHNYA
PERSAHABATAN
Pagi telah datang. Sinar matahari mulai nampak. Cahayanya
terasa hangat. Burung-burung menyambutnya riang. Bernyanyi sambil menari dan
melompat dari dahan ke dahan. Aku sendiri telah mandi. Dan sudah siap pergi.
Seragam putih merah telah melekat rapi di badanku. Sebentar lagi aku
berangkat ke sekolah.
Sesampai
di sekolah aku melihat semua ruangan masih tertutup. Rupanya teman-teman
yang datang duluan enggan membukanya. Aku segera membuka semua pintu dan
jendela yang ada. Aku berharap sinar matahari dapat masuk dengan leluasa.
Kemudian
tas kusimpan di laci meja. Aku terus keluar mendapati teman-teman. Tapi mereka
tidak ada. Mungkin sedang jajan. Dalam sendiri aku menatap aneka bunga di
taman. Melati, mawar, kenanga dan anggrek nampak berseri-seri. Indah sekali.
Kupetik
sekuntum melati yang sedang mekar. Kuselipkan di antara rambutku yang terurai.
Melati itu terjatuh. Kuambil kembali dan kuselipkan di antara telinga.
“Wow, alangkah cantiknya aku,” pujiku dalam hati ketika kubercermin di kaca
pintu.
Satu-satu
temanku mulai datang. Kemudian kami berkumpul berbincang-bincang. Lalu datang
Resti dan Siska. Mereka saling menyiku sambil melirik padaku.
“Selamat
pagi,” sapaku dengan senyum.
Tapi
mereka malah tertawa dan pergi meninggalkan kami. Dalam hati aku kesal melihat
tingkahnya yang begitu. Tapi aku tak dapat berbuat apa-apa. Karena lonceng
tanda masuk telah dibunyikan. Kami semua bergegas masuk kelas.
Hari
ini ulangan IPA. Aku duduk dengan perasaan tenang. Malamnya aku telah menghapal
dengan tekun karena aku tahu ini ulangan lisan. Alhamdulillah, hasilnya
kentara. Hampir semua pertanyaan yang dilontarkan guru aku jawab dengan benar.
Ketika
jam istirahat teman-temanku ribut di belakang. Kudekati mereka untuk ikut
mengobrol. Tapi sebagian dari mereka ada yang mencibir dan mendehem.
Terkesan mengejek. Hanya satu yang memujiku. Santi namanya.
“Hebat
kau Aya. Kau pintar sekali. Aku ingin seperti kau!” pujinya tanpa aling-aling.
Baru
saja aku tersenyum dan mau menjawab, tiba-tiba Resti berkata.”Buat apa
pintar kalau sombong.” Ia mencibir kusam.
Aku
memandangnya dengan perasaan terluka. Bersama teman-teman lainnya lalu kompak
tertawa. Segera aku menghindar saja.
Jam
terakhir ini pelajaran bahasa Inggris. Gurunya sudah datang. Bu Erni adalah
guru yang tegas dan disiplin. Ia selalu ingin murid-muridnya memperhatikan
dengan baik saat ia sedang menerangkan pelajaran. Tak berapa lama ia lalu
menelorkan pertanyaan-pertanyaan.
“The
opposite of happy is……?” tanyanya.
“Sad,”
jawabku. Aku bisa menjawab pertanyaan pertama.
Terdengar
ada yang mendehem di belakangku. Aku lantas diam. Pertanyaan ketiga aku
menjawab lagi. Terdengar ada yang tertawa cekikikan.
Bu
Erni bertanya, “ Resti, apa yang lucu? Kenapa tertawa – tawa?” protes bu guru
dengan suara lantang.
Resti
tertunduk.
“Ayo
kamu ke depan dan tulislah sebuah karangan pendek tentang sekolahmu
dalam bahasa Inggris!” perintah bu Erni.
Dengan
ragu-ragu Resti ke depan. Ia memegang kapur tetapi hanya berdiri mematung di
depan.
“Ayo
mulai, mengapa diam,” hardik bu Erni.
“Tidak
bisa, Bu,” jawab Resti sambil menunduk, malu dan takut.
“Makanya
kalau tidak bisa, belajar. Jangan mengobrol saja!” marahnya.
“Ayo
duduk!” perintahnya lagi.
“Sekarang
siapa yang bisa, ayo ke depan!”
Aku
berdiri dan menulis tentang sekolahku dalam bahasa Inggris. Bu Erni nampak puas.
Katanya karanganku bagus.
Lain
waktu Resti mengobrol lagi ketika pelajaran bahasa Inggris berlangsung. Dan itu
membuat bu Erni kesal. Ia mendapat peer spesial : menulis sebuah karangan
tentang rumahnya. Kalau peernya tidak dikerjakan, ia tak boleh masuk kelas.
Pagi
itu di bawah pohon nangka Resti nampak menunggu seseorang. Ketika melihatku, ia
nampak senang.
“Tsuraya!”
panggilnya.
“Ya
Resti, ada apa?” tanyaku.
“Bisa
ke sini sebentar,” pintanya.
Dengan
hati sedikit deg-degan aku mendekatinya.
“Aya,
aku minta maaf ya. Selama ini aku selalu meledek dan menghinamu. Itu karena aku
sangat iri padamu. Kamu cantik, baik, pintar lagi. Semenjak kedatanganmu ke
sini perhatian teman-teman dan guru-guru semua beralih padamu. Sekarang
aku sadar, kamu tak pantas aku musuhi. Karena jujur, aku membutuhkanmu,”
suaranya agak menghiba.
“Resti
percayalah, aku sudah memaafkanmu. Jadi sekarang kita berteman baik kan?” Ada
perasaan lega di dadaku.
Tapi
Resti masih kelihatan merenggut.
“Terimakasih,
kamu baik sekali. Tapi aku membutuhkan pertolonganmu,” kelunya sambil menunduk.
“Apa
yang bisa kubantu untukmu Resti,” kataku bersungguh – sungguh.
Resti
menengadahkan kepalanya.
“Aku
belum menyelesaikan peer bahasa Inggrisku. Aku tidak bisa. Dan Siska sahabatku
juga tak dapat membantuku. Kalau aku tak mengerjakan peerku. Aku tak boleh
masuk kelas selama pelajaran bu Erni,” lirihnya.
Aku
tersenyum.
“Apa
yang bu Erni tugaskan padamu?” selidikku.
Resti
menunjukkan buku tugasnya. Aku lalu membacakan sebuah cerita pendek. Resti menyalinnya
sambil sesekali kubantu cara menulisnya. Selesai mengerjakan itu bel
tanda masuk berbunyi.
Buru-buru
kami masuk kelas. Di kelas aku menjawab lagi beberapa pertanyaan yang
dilontarkan Bu Erni. Tapi sekarang tak ada suara dehem lagi, tak ada suara
ribut lagi.
Pulang
sekolah Resti dan Siska mendekati.
“Aya,
Aya sebentar! Maukah kau siang ini ke rumahku untuk rujakan sambil
mengerjakan peer bersama – sama?” ajak Resti.
Aku
tersenyum.
“Kenapa
tidak, kalian kan teman – teman baikku,” jawabku mantap.
Semenjak
itu kami menjadi trio sahabat. Resti dan Siska selain menjadi teman belajarku
juga menjadi teman mainku. Senangnya, karena semenjak tinggal di kampung ini
aku tidak mempunyai teman main seorang pun.
Sekarang
bersama Resti dan Siska aku bisa ikut menikmati indahnya memetik kacang
panjang, mandi di sungai yang airnya jernih bahkan menjelajah bukit-bukit kecil
sambil mencari jamur. Senangnya mendapatkan pengalaman baru yang tidak pernah
kudapatkan di kotaku dulu.
cerpen anax scupy abang ireng ,,
BalasHapuscerpen deso
BalasHapuskemakii is
BalasHapuswah iss
BalasHapusbergaye
BalasHapus